Minggu, 15 Juli 2018
MTQ mengubah dunia lewat tulisan

MTQ mengubah dunia lewat tulisan


PENDAHULUAN
 Musabaqah Tilawatil Qur'an yang disingkat MTQ akan segera dilaksnakan sekala nasional.* perlombaan yang dilaksanakan 2 tahun sekali ini meninggalkan kesan yang berbeda pada setiap peserta yang mengikutinya. Ada perasaan haru, bahagia dan juga sedih di masing-masing hati para peserta MTQ. Ajang apresiasi penggalian nilai-nilai al-Qur’an ini tidak hanya dilaksanakan dilevel nasional namun juga mulai dari tingkat desa sampai tingkat kabupaten/kota dan Provinsi di setiap daerah di indonesia.
 Apa yang kita pikirkan bila mendengar MTQ atau lebih populernya Musabaqah Tilawatil Qur’an? Ya, mungkin semua sepakat perlombaan membaca Alqur’an. Namanya juga Musabaqah Tilawah (membaca) Qur’an pastinya mempertandingkan pembacaan alqur’an. Membaca didepan khalayak atau di arena menampilkan suara merdu, nyaring sehingga menyihir penonton dari luar Arena. Tapi tahukah kita walaupun dinamakan Musabaqah Tilawatil Qur’an namun tidaklah hanya tilawah saja dipertandingkan. Ada cabang-cabang lain yang berdampingan selainnya. seperti Hifz al-Qur`ân, Tafsîr al-Qur`ân, Khat al-Qur`ân, Fahm al-Qur`ân, dan Syarh al-Qur`ân dan terakhir Menulis Maqalah Qur’an (MMQ/M2IQ/M2KQ).
MMQ merupakan cabang musabaqah yang menitikberatkan pada kemampuan menulis dengan mengeksplorasi isi kandungan al-Qur’an. Cabang yang terakhir ini memiliki keunikan tersendiri dibanding cabang lainnya. Hal ini peserta disibukkan menyiapkan buku-buku sebagai alat dalam pertandingandan membuat makalah. Ditambah dengan sebagai cabang termuda diantara cabang-cabang lainnya. Peserta yang ikut juga biasanya yang pandai menulis dan rata-rata mahasiswa yang pernah mengerjakan makalah di kampus. Penulis teringat peserta aceh yang menjadi juara 1 Provinsi tahun 2015 dan menjadi peserta di MTQ nasional di Mataram juga seorang mahasswa di UIN ar-Raniry banda Aceh. Beginilah MMQ cabang yang melahirkan penulis menggali dan menjawab melalui al-Qur’an.
Sejarah MMQ
            Awalnya MMQ dinamakan Musabaqah Menulis Kandungan isi Alqur’an (M2KQ) kemudian pada tahun 2012 berubah menjadi Musabaqah Makalah  Ilmiah Alqur’an (M2IQ) namun pada tahun 2014 berubah menjadi Musabaqah Makalah Alqur’an (MMQ). walaupun berubah dari segi nama tidaklah berubah subtansi dari MMQ/M2IQ/M2KQ itu sendiri. Setiap karya diharuskan mengeksplor alqur’an dan tidak hanya menulis seperti makalah pada umumnya di kampus.
Mungkin kita bertanya siapakah penggagas sehingga lahirnya MMQ/M2IQ/M2KQ? Penulis mencoba menelusuri lebih lanjut tentang siapakah menggas MMQ itu sendiri dan akhirnya saya temukan pada sebuah Blog sederhana dari peserta M2IQ di Jawa Timur bahwa yang menggagas MMQ ialah seorang guru besar di UIN Sunan Gunung Djati Bandung ialah Prof. Dr. Asep Saepul Muhtadi.( Lihat http://colectioninfo.blogspot.co.id/2012/11/mtq-cabang-m2iq-atau-m2kq.html)
Profesor menjelaskan bahwa, menulis itu memiliki keuntungan jangka panjang, hasil tulisan bisa diwariskan ke anak cucu, berbeda dengan cabang lain yang hanya bisa dinikmati di saat MTQ saja, tapi karya MMQ bisa dinikmati sampai kapanpun. Karena manfaatnya yang begitu besar, LPTQ pusat tak kuasa menolak untuk membuat cabang menulis ini di setiap gelaran MTQ. MMQ ini adalah salah satu usaha untuk peduli terhadap pemahaman Al-Qur’an atau dalam bahasa lain “ orang yang paham agama dan menuliskannya “ dalam bahasa lain “penulis yang mengerti agama dan bagus tulisannya” maka menulislah ia.
Di aceh sendiri cabang ini baru di perlombakan uji coba pada tahun 2009 dan pesertanya dipilih mengingat belum adanya diikutkan pada tahun sebelumnya. Namun tahun-tahun setelahnya cabang ini bak jamur dimusim hujan, karena tidak terlalu sulit bagi LPTQ daerah untuk mencari bibit, peserta yang diminta mengisi cabang ini biasanya para mahasiswa kampus karena memang mahasiswa selalu bergelut yang namanya makalah.

MMQ : menulis, menjawab persoalan melalui perspektif Alqur’an
Menulis memang suatu kegiatan yang menarik dan menyenangkan, tapi tentunya tidak semua orang merasakan hal yang sama, karena belum tentu setiap orang menyenangi kegiatan menulis. Bagi yang menyenangi kegiatan ini ia dapat megapresiasikan apa yang ada dalam benaknya, dan mengaplikasikannya pada kata-kata. Sejalan dengan MMQ berupaya membumikan al-Qur’an melalui tulisan dan menjawab tantangan dan tuntutan dalam perspektif al-Qur’an itu sendiri.
Menulis makalah qur’an atau MMQ mencoba menjawab masalah dengan menggali alqur’an dan mengeksplor alqur’an untuk mencari solusi, MMQ tidak hanya sekedar menulis makalah, tapi ia memiliki kekuatan ilmiah menjawab tantangan bangsa. Pemakalah tidak hanya sekedar menulis, namun ia dituntut untuk menjawab persoalan melalui dua tema besar yang diberikan panitia pelaksana kepadanya. Apa yang menjadi pembeda makalah Alqur’an dengan makalah kampus? Pembedanya terlihat dari sifat tulisannya reflektif refrensial, bersifat tematik (berpacu kepada tema), menggunakan kaidah popular (Panduan MMQ 2015).

MMQ ajang Kaderisasi penulis.
Cabang MMQ sebagai sarana melahirkan kader penulis handal. Terbukti para peserta mampu mempersiapkan tulisan 10-15 halaman dalam waktu singkat maksimal waktu 10 jam menggunakan Tik portable (mesin ketik zaman) mungkin kalau saat ini sudah sulit mencarinya dengan digesernya oleh laptop dan sejenisnya. Pembuatan makalah dalam rentang waktu maksimal 10 jam, ini bukanlah perkara mudah mengerjakan tulisan 15 halaman menggunakan mesin tik. Pemakalah diwajibkan menulis dari awal dan tidak diperbolehkan membawa karya yang telah siap diketik untuk disalin, ini merupakan pelanggaran dalam pertandingan dalam membuat makalah. Namun demikian sudah terlebih awal pihak panitia memberikan 2 tema besar yang menjadi acuan bagi peserta dalam meramu makalahnya dalam MTQ tersebut.
Kehadiran MMQ ini upaya melahirkan kader-kader penulis seperti ulama masa lampau melakukan kegiatan menggali dan menuliskan menjawab persoalan melalui alqur’an. Begitu banyak persoalan bangsa yang belum terselesaikan, maka perlu kembali  meninjau kepada pedoman umat Islam yang telah Allah turunkan melalui rasulnya kepada Umatnya yaitu alqur’an dan al-hadits. Dengan perhelatan MTQ ini diharapkan karya peserta sebagai referensi solusi terhadap permasalahan dimasa kini maupun akan datang. Melalui karya makalah peserta yang telah ditulis tentunya menjadi semangat baru bagi nusa dan bangsa dan tentunya aceh sendiri. Oleh karena itu agar karya tidak sekedar sebagai pajangan perlunya publikasi agar dapat dibaca oleh khalayak umum. Sesuai dengan harapan sang guru besar dapat dinikmati anak cucu dimasa kini dan akan datang.




* MTQ Nasional ke 27 di di Medan Sumatera Utara, dilaksanakan Oktober 2018.
Pembinaan Mu’alaf pada Daerah Perbatasan Aceh-Sumatera Utara

Pembinaan Mu’alaf pada Daerah Perbatasan Aceh-Sumatera Utara


PENDAHULUAN
Pembinaan muallaf didaerah perbatasan merupakan kebutuhan yang pasti  agar tetap tersebarnya Islam dimuka Bumi, begitu pula di Provinsi Aceh yang merupakan Provinsi pertama dan satu-satunya telah diberikan kekhususan menegakkan syariat Islam berdasarkan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999. Salah satu Dari 23 kabupaten/kota di Aceh ialah Kota Subulussalam yang terbentuk sejak tahun 2007. Terletak diperbatasan antara Provinsi Aceh dan Sumatra Utara. Karena letaknya tersebut maka dikecamatan ini penduduknya paling dominan menganut dua keyakinan yaitu Islam dan Kristen.
Tahun 2011, jumlah penduduk di kecamatan Penanggalan berjumlah 13.232 jiwa, laki-laki 6.846 jiwa dan perempuan 6.387 jiwa.[1] Agama yang dianut penduduknya ialah Islam 80 %, Kristen protestan 12 %, Kristen Katolik 8 %.[2] Keadaan demikian menyebabkan sebagian masyarakat tidak merasakan ketentraman, karena tinggal dekat lingkungan gereja.[3]
Kondisi aktivitas dakwah di kecamatan Penanggalan Kota Subulussalam belum berjalan maksimal, dimana dikecamatan ini acara perayaan umat nasrani lebih meriah dan mewah daripada kegiatan dakwah umat islam. Bahkan pemuda muslim ikut menyemarakkan acara natal tersebut meski ia muslim.
Meski wilayah Aceh sebagai daerah syariat Islam. Terbukti sampai hari ini masyarakat Penanggalan dan sekitarnya masih banyak yang menganut agama Kristen. Sedangkan  umat Kristen yang masuk agama Islam atau yang di katakan mu’alaf hanya sekedar Islam saja tetapi tidak mengetahui atau mendalami keseluruhan ajaran Islam itu sendiri diakibatkan kurangnya dakwah atau ajaran dari ulama sekitar Kecamatan Penanggalan.

Pembinaan Agama pada Muallaf
Dakwah merupakan sesuatu hal yang wajib dilaksanakan umat muslim mengingat ayat sueah ali-imran 103 dan 110 menunjukkan umat islam adalah golongan umat terbaik dan wajib melakukan dakwah. Dalam al-Qur’an kata da’a diartikan dengan beberapa pengertian antaralain Menyeru ( QS. Ali-Imran, (3) : 104 ), Memanggil  ( QS. Ar-Rum, (30) : 25 ) dan Dawah (QS. Maryam,(19): 91).
            Dalam melakukan dakwah dikenal beberapa teknik penyampaian  diantaranya: Dakwah Fardiyah, ‘Ammah, bil Kitabah dan bil Qudwah.
Sebagai orang yang baru masuk kepada agama Islam tentunya masih banyak tantangan dan terbatasnya kemampuan dalam melaksanakan ibadah yang sesuai dengan tuntunan agama Islam. Untuk itu perlunya pembinaan yang intens dari para da’i agar muallaf tetap istiqamah dijalan agama yang lurus ini.
Muallaf adalah orang yang dibujuk hatinya atau orang yang baru masuk Islam.[4] Secara popular dalam masyarakat Indonesia, istilah mualaf biasanya dipahami sebagai “ orang yang baru masuk Islam.[5]
Dengan pernyataan diatas, maka para da’ilah yang berkewajiban memberikan arahan kepada muallaf, bukan sekedar karena rasa nilai kemanusian, namun atas dasar kewajiban bagi segenap umat muslim. (Roibin, Sosiologi Hukum Islam: 37)
Problematika Kehidupan Muallaf dan peran da’I dalam pembinaan muallaf
Memeluk Islam bukan hanya sekedar menambalkan titel sebagai seorang muslim akan tetapi harus diimplementasikan dengan berbagai ibadah kepada Allah, baik ibadah wajib maupun sunat. Dalam membentuk kepribadian muslim pada hakikatnya merupakan perwujudan dari konsekuensi seorang muslim, yakni bahwa orang muslim ia harus memegang erat identitas kemuslimannya dalam seluruh aktivitas kehidupannya. Identitas itu menjadi kepribadian yang tampak pada pola berpikir (aqliyyah) dan bersikapnya (nafsiyyah) yang dilandaskan pada ajaran Islam.(Mujiburrahman, Pendidikan Berbasis Syari’at Islam, 2011: 48)

Dikota Subulussalam tahun 2010 data muallaf yang berada dalam pembinaan hanya dua orang, sedangkan pada tahun 2011  menjadi sepuluh orang, pada tahun 2012  menjadi dua puluh tujuh orang, sedangkan pada tahun 2013 hanya sebelas orang.
Para muallaf masih banyak mengalami problematika di bidang pendalaman ajaran agama, di antaranya pelaksanaan ibadah shalat dan membaca al-Qur’an. Para muallaf kebanyakan tidak mampu melaksanakan ibadah shalat baik shalat pardhu maupun shalat sunnat lainnya secara kontinu bahkan hampir setiap Jum’at para muallaf tidak pernah melaksanakan shalat Jum’at dan jika ada hannya sebatas menampakkan diri semata. Kendala lain yang dirasakan muallaf ialah mendapatkan intimidasi, terutama dari keluarga, sahabat karib, dan teman-teman dari agamannya yang lama, dan kesulitan dalam bidang ekonomi.[6]
Dengan permasalahan diatas, maka para da’ilah yang berkewajiban memberikan arahan kepada muallaf agar mereka tidak mengalami problematika dalam melaksanakan ibadah fardhu dan sunat. Memberikan bimbingan konseling Islam, membantu para muallaf bukan hanya sekedar menerapkan dari rasa nilai kemanusian, tetapi di dalam Islam membantu para muallaf itu adalah kewajiban bagi segenap umat muslim.[7]
Da’i sangat berperan dalam pembinaan muallaf yang berada di daerah perbatasan kota Subulussalam, terutama di kecamatan Penanggalan, Da’i tetap di kecamatan tersebut ialah berjumlah 35 orang dan di setiap desanya terdapat lebih dari satu orang da’i yang bertugas dalam satu mesjid tetapi hal ini masih kurang efektif dalam melakukan pembinaan muallaf. Selain itu dibantu juga oleh Pihak Dinas Syari’at Islam Propinsi dan pemerintah kota Subulussalam dengan mengutus da’i perbatasan untuk membina muallaf yang berada di kecamatan Penanggalan dan sekitar kota Subulussalam. Untuk menjalankan tugas pokok da’i.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh seorang mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh[8] menyebutkan bahwa “pembinaan yang dilakukan hanya seputar cara wudhu’, cara-cara bersuci, rukun shalat, praktek shalat lima waktu, dan cara membaca al-Qur’an. Namun dalam pembinaan ternyata terdapat kelemahan dalam pembinaan muallaf yang dilakukan oleh da’i perbatasan, hanya berhasil pada kaum lelaki, sedangkan pada muallaf perempuan tidak selalu khusus pada wirit akbar saja.
Pembinaan yang dilakukan oleh da’i  terhadap muallaf adalah suatu usaha yang dilakukan untuk memberikan penerangan agama yang lebih dalam yang bermanfaat kepada muallaf, pembinaan dilakukan di mesjid, ceramah, saling mengingatkan, dengan menggunakan metode persuasive dengan cara tatap muka antara da’i dan muallaf. untuk menjadi muslim/muslimah yang sejati, sebagaimana yang telah di katakan dalam al-qur’an QS. An -Nahl : 125 untuk menyeru manusia kejalan Tuhanmu agar orang-orang yang mendapat hidayah petunjuk.
PENUTUP                                              


Berdasarkan hasil paparan diatas dapat disimpulkan bahwa da’i sangat berperan dalam pembinaan muallaf, membina Aqidah ahklak, norma-norma agama, cara beribadah yang benar, cara bersuci, pendalaman ajaran Agama Islam yang dilakukan dengan metode persuasif dan pembinaan muallaf juga di lakukan oleh dinas Syari’at Islam dan penggerak Agama yang ada di daerah kota Subulussalam terutama di kecamatan Penanggalan.
Diharapkan kepada lembaga-lembaga pelaksanaan dakwah baik yang berada di bawah pemerintahan, maupun sosial, agar terus meningkatkan upaya pembinaan terhadap muallaf yang berada di daerah perbatasan secara berkelanjutan. membentuk daiyah perbatasan untuk melancarakan pembinaan pada muallaf wanita, memberikan harus lebih khusus dan memiliki jadwal dan waktu tertentu, agar muallaf bisa lebih memahami dan mendalami lagi tentang ajaran agama islam yang baru di jalaninya.


[1] Statistik Daerah Kecamatan Penanggalan 2010,  ibid  hal. 3.
[2] Suku Padang, Manduamas, Karo,  Pak-Pak, Batak, Nias, Jawa, Alas, dan suku Singkil
[3] Sebaran jumlah rumah ibadah di kecamatan Penanggalan adalah 19 unit rumah ibadah Islam yaitu 14 mesjid, 5 mushalla. Rumah ibadah Kristen 6 unit yaitu 2 gereja dan 4 sangggar. Lihat Sumber : Dinas Depertemen Agama, Pemerintah Kota Subulussalam, data berdasarkan tahun 2012
[4]Munawir dan Muhammad Fairuz, Kamus Al-Munawir Indonesia-Arab, (Surabaya : Pustaka Progressif, 2007), hal. 584.
[5]Hasimsyah dkk,  Ensiklopedi Islam,  (Jakarta : Ichtiar Baru Van Hoeve, 2005), hal.48 .
[6] www. http://idc.voa-Islam.com/read/idc/107/hijrah-memeluk-Islam-muallaf-mantan-Kristen
[7] Roibin, Sosiologi Hukum Islam, (UIN Malang Press: Yogyakarta, 2008), hal. 37
[8] Salmawati mahasiswa fakultas dakwah dan komunikasi jurusan Bimbingan dan penyuluhan ISLAM 2014/1435 H

Jumat, 30 September 2016

CINTANYA LELAKI

Judul buku      : cinta laki-laki biasa
                        Cinta seperti apa yang menghampirimu
Penulis             : Asma Nadia dkk
Penerbit           : Asmanadia Publishing
Cetakan           : juni 2016
Tebal               : 264 hlm
ISBN               :978-602-9055-45-0
HARGA         : 59.000

Cinta memang tidak terlepas dari kehidupan kita, cinta dari tuhan kepada manusia, orangtua kepada anaknya, dan lelaki kepada kekasihnya, tak perduli bagaimana bentuk terkasih, apakah ia sehat, sempurna, cantik atau ganteng tak diperdulikan lagi apabila telah cinta tertancap terhadapnya. Cintanya lelaki diekspresikan lewat action yang nyata sekali menyatakan cinta tidk diingkari dan tetap menjaganya.
Sangat sulit menjelaskan kepada orang lain mengapa kita menikahinya. Begitu juga dengan Nania kenapa ia mau menikah dengan lelaki itu, tiada kata yang tepat untuk melukiskan, dan menjelaskan jika orang lain bertanya. Bahkan ia gagap pertama kali berbicara ketika menyampaikan bahwa ada laki-laki berkeinginan melamar dirinya, seorang lelaki biasa bernama Rafli yang sontak menjadi penolakan dan diperbandingan oleh orangtuanya terhadap lelaki lain yang berkeinginan sama terhadap dirinya.
“ Nania tidak serius dengn Raflikan? Bukannya kamu punya rencana menikah dengan tyo sebentar lagi? Singgung mamanya.
Muncul sanggahan lain dari saudranya “ Kalian tidak sepadan, tidak ada yang bisa dilihat darinya Nia.” Saudara nania (hal. 5)
Nania resah. Benar, ia tidak bisa melihat masa depan tapi ia membuat sebuah keputusan penting sekarang kebahagian masa depannya di pertaruhkan.
Untuk hal jodoh saja dunia menjadi para meter kelayakan seseorang untuk berdampingan hidup dengan manusia lain. Mulai dari pendidikan, jabatan, pekerjaan, wibawa, serta harta menjadi ukuran kelayakan seseorang. Namun kita manusia tidak mengetahui bahwa hatilah semestinya menjadi ukuran. sejak pernikahannya yang kurang mendapat dukungan dari keluarga meski telah memiliki dua anak namun tetap saja nania mendaaptkan gunjingan ketidak pantasannya menikahi Rafli. Tidak sepadan, banyak protes  yang datang dari luar, bahkan termasuk kelurganya sendiri.
 Beginilah manusia tidak bisa melihat sisi lain diluar pandangannya, sampai pada suatu ketika di kehamilan anaknya ketiga di usia kandungan Sembilan bulan dua minggu waktu yang sudh semestinya si bayi melihat dunia, namun apalah daya, sibuah hati  belum juga menampakkan rambu-rambu akan keluar, hingga dokter mengambil tindakan melakukan operasi. Bayi selmat namun si ibu kritis dan koma selama 37 hari tergeletak dalam ruangnan. Terjawablah do’anya setelah sekian lama dengan sabar dan penantiannya di samping sang istri tercinta tanpa kenal lelah. Sadar dari koma, kemudian lumpuh menerpa.kemudian hidup dilanjutkan dengan penuh warna dan cinta luar biasa dari laki-lki biasa.
Cinta tidak hanya sekedar dirasakn dengan keadaan fisik yang sempurna, namun juga bis diliht melalui tangan dan hati menentukan siapa yng layak untuk kita. Hanya orang yangtepat cinta itu layak berlabuh, kesempurnaan itu tidak hanya bisa dilihat melalui  mata namun juga hati ikut merasakannya. Begitulah cara melihat cinta. Tetap tabah, bisa bertahan dalam menghadapi cobaan, Cinta tak bisa diukur dengan nalar.
Cinta itu penuh keikhlasan, melahirkan generasi penuh cinta dimulai dari pengorbanan, dipertemukan setelah sekian lama terpisah  oleh ruang dan waktu, meski sudah berumur namun cinta tetap hadir meski usia bukan lagi anak remaja. Meski melihat dari jauh, mengagumi, atau rela mencari keliling Timur ke Barat Selatan dan Utara (seperti lagunya Wali band) untuk menemukan kembali cinta yang hilang. Karena kesalahan sedikit kehilangan cinta yang sangat besar.
Buku ini dibagi kedalam 18 bagian, dimulai dari cinta laki-laki biasa ditutup bagian kamu adalah surgaku mengisahkan pengorbanan laki-laki dalam mencintai orng yang dikasihinya, pengorbanan suami, pengorbanan ayah, agar membahagiakan kekasih hatinya. Namun buku ini terdapat bagian tertentu seperti melihat cinta membahas tentang cinta seorang gadis buta, suatu senja di alun-alun kota, bundaku, batu cinta membahas tentang cinta wanita.  .
Bersama Buku cinta laki-laki biasa ada banyak cerita romantis karya pemenang lomba menulis cinta dalm Aksara. cinta lelaki biasa menginspirasi untuk tidak memandang oranglain dari luar saja, tidak melihat fisik juga harta. Tapi lihatlah agamanya karena ia memberikan cinta dengan sesungguhnya.

Buku ini sangat layak di baca penikmat novel, cerpen. Didalamnya memuat kisah-kisah menarik dan kaya akan inspirasi serta hikmah yang bisa kita ambil dalamnya. terangkum atas hasil karya pemuda berisikn cinta laki-laki yang diangkat kedalam tulisan ini. Ditulis oleh 18 penulis, Buku ini juga akan di angkat kedalam film berjudul cinta laki-laki bisa seperti judul bukunya. Tulisan ini ditutup dengan mereka berkata cinta oleh kru dan pemain film cinta laki-laki biasa


Minggu, 04 September 2016
Jejak –Jejak Sang Revolusioner Sejarah

Jejak –Jejak Sang Revolusioner Sejarah

Judul buku            : 50 Pendakwah Pengubah Sejarah
Penulis                  : M. Anwar Djaelani
Penerbit                : Pro-U Media (Yogyakarta)
Cetakan                 : I, 2016
Tebal                     : 336 halaman
Nomor ISBN         : 978-602-7820-40-1

Setiap zaman pasti ada orang tertentu yang lahir menjadi tokoh diseluruh belahan dunia, mulai dari zaman nabi, Aristoteles sampai pada masa Rasulullah , beserta sahabat yang telah menisbahkan dirinya sebagai orang yang mencetak sejarah merupakan tokoh besar di zamannya bahkan sampai saat ini. Tak terkecuali Indonesia di Abad 20-an lahir pula tokoh-tokoh besar yang menjadi tombak dakwah pengubah sejarah.
Buku ini merekam jejak perjuangan 50 tokoh pengubah sejarah, Mereka tersebar disemua kalangan baik politisi, penulis buku, jurnalis, kristolog, kalangan pendidik, aktivis, organisator, politikus, orator/muballigh, sehingga beberapa dari mereka menyandang prediket pahlawan nasional mendapat gelar Dr (HC). Buku ini dimulai dari jejak kelahiran, belajar aktivitas dalam mendukung pergerakan nasional.
Kisah hidup dalam buku ini menceritakan tokoh hidup sebelum lahir kemerdekaan RI, orang yang menggagas organisasi, mendirikan pesantren, politikus, guru besar, anggota DPR, bahkan ada yang menjadi Dekan dalam universitas, yang semuanya berkontribusi menuju perubahan bersama karya mereka akan tetap hidup.
Kisah dalam buku ini ditulis secara ringkas mengenai biografi tokoh nasional yang terbagi dalam 15 bagian secara rubrik. Bagian pertama dibuka tentang inspirasi dari guru-guru masjidil haram, bagian kedua tentang pembaharu dan pendidik fenomenal. Kemudian bagian ketiga kisah pasangan suami isteri dalam menjalankan roda organisasi. Bagian empat mengisahkan bapak dan anak satu arah dalam menjalankan misi menuju satu tujuan. Bagian kelima jejak mertua dan menantu dalam satu garis perjuangan, dakwah tidak hanya dimimbar saja, tetapi juga berlaku diranah politik begitulah yang akan kita baca pada bagian keenam yang berisikan tokoh-tokoh besar seperti Hos Tjokroaminoto, Agus salim, M. Natsir, Mohammad Roem, Syafruddin Prawiranegara, Kasman singodimedjo, serta Prawoto.Tidak hanya menjadi pemimpin bisa namun mereka jua memiliki pesona penggerak yang mencerahkan serta penuh prestasi pada bagian selanjutnya.
Sampai dibagian sepuluh kita akan menemukan kisah tokoh kaum perempuan yang tak kalah tangguhnya, mereka sangat hebat, memiliki semangat perjuangan sehingga ada yang mendapat gelar syaikhah, berprofesi jurnalis, adapula menjadi ulama, penghafal al-Qur’an.
Tokoh selanjutnya pada bagian sebelas sampai lima belas tentang kristolog yang jago dialog, pendebat selalu hidup bersama tulisannya serta ditutup dengan bahasan tokoh selalu semangat dalam gerakan dakwah.
Jika dicermati setiap bagian tokoh dimulai tokoh umur paling tua berakhir dengan tokoh yang lebih muda, diceritakan pula apa saja yang telah digagas, dibentuk, didirikan, dicetuskan dan dipimpin oleh setiap tokoh bahkan ada salah seorang tokoh didalamnya pernah menjabat presiden sementara pada masa indonesia darurat. Beragam kapasitas dan model setiap tokoh didalamnya yang direkam oleh penulis.

Buku ini sangat layak dinikmati oleh semua kalangan, bersifat umum dan ringan dibaca oleh semua orang. bisa dijadikan referensi dasar bagi orang yang ingin melacak sejarah pembaharu di indonesia guna membaca lebih lanjut pemikiran tokoh di dalamnya. Namun penulis buku ini tidak mencantumkan semuanya pendakwah yang mengubah sejarah, sebagai contoh Ali Hasyimi orang yang pertama kali dengan gagasannya mendirikan fakultas Dakwah sehingga seluruh PTAIN bahkan universitas umum di Indonesia mengadopsi dan mendirikan fakultas tersebut di universitas masing-masing.


Hasil gambar untuk 50 pendakwah